Simulai dan pemodelan
Simulasi dan Pemodelan VANETs Menggunakan
Federated Mobility Model
I. SIMULASI
Simulasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI) adalah penggambaran suatu sistem atau proses dengan peragaan berupa
model statistik atau pemeranan.
Menurut pendapat ahli simulasi merupakan
suatu teknik meniru operasi-operasi atau proses-proses yang terjadi dalam suatu
sistem dengan bantuan perangkat komputer dan dilandasi oleh beberapa asumsi
tertentu sehingga sistem tersebut bisa dipelajari secara ilmiah (Law and
Kelton, 1991). Simulasi merupakan alat yang tepat untuk digunakan terutama jika
diharuskan untuk melakukan eksperimen dalam rangka mencari komentar terbaik
dari komponen-komponen sistem.
Kelebihan:
·
Memungkinkan
detail bisa dicakup
·
Dapat
membandingkan rancangan sistem yang lain
·
Dapat
mengontrol skala waktu
·
Sistem
eksisting tidak diperlukan
Kelemahan:
· Sulit untuk menggeneralisir hasil
· Sulit untuk mempertimbangkan semua nilai
kasus/parameter
· Sulit untuk menentukan sensitivitas
· Waktu untuk mengembangkan dan mengeksekusi simulasi
·
Upaya untuk
memvalidasi model dan menganalisa data output
II. Pendahuluan
Pengembangan teknologi nirkabel untuk sistem
jaringan komunikasi telah dikembangkan tidak hanya
sebatas pada penggunaannya untuk interaksi dan mobilitas
manusia dengan berbagai perangkat elektroniknya. Namun
perkembangannya telah diarahkan pada mobilitas manusia
dan kendaraan yang digunakannya sehari-hari. Teknologi
ini dikembangkan sebagai solusi untuk memecahkan
sejumlah permasalahan pada sistem transportasi.
Permasalahan pada sistem transportasi saat ini sudah cukup
kompleks, mulai dari kepadatan lalu lintas, kemacetan,
hingga meningkatnya jumlah kecelakaan dijalan raya. Jenis
teknologi jaringan nirkabel yang dikembangkan untuk
menjadi solusi dalam pemecahaan sejumlah permasalahan
ini adalah Vehicular Ad-hoc Networks (VANETs).
VANETs merupakan sebuah teknologi jaringan nirkabel
yang dikembangkan untuk mendukung pengembangan
teknologi Intelligent Transportation Systems (ITS). Oleh
karena itu, VANETs merupakan bagian yang tidak bisa
dipisahkan dari ITS. ITS adalah teknologi yang telah
dikembangkan untuk mendukung sistem transportasi yang ideal bagi masyarakat pengguna jalan raya.
Kemunculan ITS diharapkan menjadi sebuah metode
untuk memecahkan masalah transportasi yang menawarkan
keselamatan dan keamanan, efektifitas dan efisiensi lalu
lintas, meningkatkan kenyamanan berkendara, serta
mendukung pelestarian lingkungan. Secara khusus,
munculnya teknologi ini diharapkan dapat mengurangi
kemacetan lalu lintas dan jumlah kecelakaan yang dapat
menyelamatkan ribuan nyawa di jalan raya. Teknologi ITS
dapat dijadikan sebagai sebuah metode lanjutan dari sistem
transportasi yang dibangun dengan mengintegrasikan
manusia, kendaraan dan lingkungan dalam suatu sistem
informasi dan komunikasi yang terpadu. Teknologi ini
diharapkan mampu membangun suatu sistem infrastruktur
transportasi yang nyaman dengan prioritas utamanya
adalah peningkatan keselamatan di jalan (road-safety).
Sebagai bagian dari pengembangan teknologi ITS,
VANETs merupakan teknologi yang tergolong baru.
Meskipun kehadiran teknologi ini memunculkan sejumlah
pengharapan untuk sistem transportasi yang lebih baik,
namun penerapannya masih memerlukan kajian yang
lebih mendalam dan lebih intensif. Teknologi ini masih
berkembang sebagai sebuah paradigma dan telah menarik
banyak minat dunia secara luas mulai dari peneliti,
profesional dibidang transportasi, industri otomotif,
hingga ke pemerintah. Sebagian besar negara-negara
yang terlibat dalam industri otomotif telah memposisikan
perkembangan teknologi ini sebagai fokus pengembangan
sistem transportasi untuk masa depan. Selain VANETs,
teknologi yang mendasari kunci untuk aplikasi ITS juga
meliputi sistem satelit, dan jaringan selular. Namun,
sistem satelit dan jaringan selular tidak ideal untuk
beberapa aplikasi keamanan-kritis (critical safety
application) karena proses komunikasinya membutuhkan
waktu terlalu lama dan memakan biaya yang sangat mahal
untuk menutupi pembiayaannya. Di sisi lain, peningkatan
teknologi ITS pada domain jaringan kendaraan nirkabel
telah menjanjikan banyak kemajuan untuk masa depan
pengembangan aplikasi ITS [1].
Sebagai teknologi jaringan kendaraan nirkabel,
VANETs diharapkan dapat mengendalikan kemacetan,
meningkatkan arus lalu lintas, mengurangi risiko
kecelakaan dan memungkinkan pelaksanaan aplikasi
internet pada kendaraan. Dengan kata lain, penerapan
VANETs harus dapat mengelola arus lalu lintas dan harus
siap memberikan solusi baru untuk strategi manajemen
dan rekayasa lalu lintas dengan target utamanya tetap
memprioritaskan keselamatan lalu lintas yang dapat
mencegah tabrakan dan menyelamatkan nyawa manusia.
Selain itu, seiring dengan perkembangannya, penerapan
VANETs juga ditargetkan pada adaptive traffic control,
peer to peer, email, web surfing, online games, dan
berbagai aplikasi lainnya. Untuk mewujudkan hal tersebut,
sejumlah peneliti yang didukung oleh industri otomotif dan
pemerintah telah melakukan berbagai penelitian. Dalam
rangka penerapan teknologi ini, proses pengembangan
tidak hanya berfokus pada pemodelan kinerja jaringan
saja. Namun, perhatian lainnya agar penerapan teknologi VANETs dapat diimplementasikan pada dunia nyata
adalah pemodelan mobilitas lalu lintas dan kendaraan
yang realistis [2]. Pemodelan ini sangat dipengaruhi
oleh jumlah dan tingkat mobilitas kendaraan yang sangat
tinggi serta sejumlah pembatasan tingkat pergerakan yang
dibatasi oleh topologi jaringan jalan, karakteristik, model,
perilaku kendaraan dan pengendara, serta berbagai faktor
lainnya untuk mendukung pemodelan mobilitas kendaraan
yang lebih realistis.
Oleh karena itu, berbagai pemodelan dan simulasi
dilakukan, baik dengan menggunakan perangkat simulasi
yang secara langsung diuji coba dilapangan maupun secara
tidak langsung yang dilakukan dengan menggunakan
software simulator tools (perangkat lunak simulasi). Namun
mengingat faktor biaya dan sumberdaya, sejumlah peneliti
memiliki kecenderungan untuk merancang pemodelan dan
simulasi menggunakan sejumlah software simulator tools
terlebih dahulu sebelum diuji coba dilapangan. Perangkat
lunak simulasi yang digunakan sangat bervariasi dan
memiliki fitur yang berbeda-beda, baik komersial maupun
open-source. Sampai dengan saat ini, berbagai pemodelan
dan simulasi telah dilakukan untuk menghasilkan model
mobilitas kendaraan yang paling realistis. Namun, hal
tersebut telah menjadi paradigma tersendiri bagi sejumlah
pemodelan tersebut dikarenakan berbagai parameter yang
membatasinya.
Tujuan melibatkan pemodelan mobilitas lalu lintas
kendaraan pada simulasi VANETs adalah sangat
penting untuk mencerminkan sedekat mungkin dengan
karakteristik lalu lintas kendaraan yang ada. Menurut
Härri et al., parameter-parameter yang harus dilibatkan
dalam pemodelan mobilitas untuk menghasilkan pola
gerak kendaraan yang realistis, meliputi: peta topologi
jaringan jalan yang akurat dan realistis, obstacles,
attraction/repulsion points, karakteristik kendaraan,
smooth deceleration and acceleration, trip motion, path
motion, human driving pattern, intersection movement,
time pattern dan pengaruh eksternal lainnya. Berdasarkan
survei dan taksonomi pemodelan jaringan kendaraan yang
telah dilakukan oleh Härri et al., terdapat sejumlah model
mobilitas yang telah dilakukan. Salah satunya adalah
federated mobility model. Pemodelan ini merupakan hasil
kombinasi dari simulator pembangkit lalu lintas (traffic
generator) dan simulator jaringan (network simulator)
sehingga dapat saling memberikan umpan balik (feedback)
antara satu dan lainnya yang difasilitasi oleh antarmuka
komunikasi (communication interface). Hal ini telah
membawa perubahan yang mendasar sehingga sistem
komunikasi dapat dilakukan dua arah (bi-directional)
secara bersamaan (concurrently). Pembangkit lalu lintas
dapat memberikan umpan balik berupa data mobilitas yang
sesuai dengan kondisi dan situasi keberadaan kenderaan,
sedangkan simulator jaringan dapat memberikan umpan
balik berupa data komunikasi. Hadirnya federated mobility
model sebagai salah satu pendekatan untuk pemodelan
dan simulasi dianggap dapat menyajikan suatu model
mobilitas lalu lintas yang lebih realistis dan lebih akurat.
Oleh karena itu, artikel ini akan mereview secara singkat dan jelas sejumlah pemodelan mobilitas lalu lintas
dan simulasi penerapan aplikasi teknologi VANETs yang
telah digunakan secara luas serta membandingkannya
dengan berbagai federated mobility models yang
telah dikembangkan hingga saat ini. Tujuan artikel ini
adalah untuk memfasilitasi pemahaman yang lebih
baik tentang sejumlah pemodelan mobilitas lalu lintas
untuk pensimulasian pengimplementasian teknologi
VANETs mulai dari proses interaksi hingga integrasi
antar perangkat simulasi. Pemahaman tentang berbagai
model mobilitas lalu lintas akan melengkapi pengetahuan
sehingga memungkinkan dilakukannya suatu pemodelan
dan simulasi penerapan aplikasi teknologi VANETs yang
mendekati kondisi riil.
III. Jaringan Ad-Hoc Kendaraan
VANETs merupakan suatu jenis teknologi komunikasi nirkabel yang dikhususkan untuk kendaraan yang memungkinkan terjadinya pertukaran komunikasi data antar sesama kendaraan atau kenderaan dengan perangkat infrastruktur jaringan. Tujuan teknologi ini adalah untuk meningkatkan sistem manajemen transportasi sehingga dapat mendukung penerapan aplikasi Intelligent Transportation System (ITS) berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Teknologi ini diharapkan dapat mengatasi kepadatan lalu lintas, mengurangi kemacetan dan jumlah kecelakaan yang terjadi di jalan [6]. Untuk pengembangan teknologi VANETs, IEEE sebagai induk organisasi professional yang salah satu tugasnya mengatur regulasi dan standar internasional penggunaan sistem komunikasi menetapkan sejumlah protokol untuk untuk pengoperasian untuk teknologi tersebut yang dinamakan Wireless Access in Vehicular Environment (WAVE) standard. Standar WAVE ditetapkan sebagai pondasi untuk pengembangan dan penerapan teknologi VANETs yang digunakan saat ini dan dimasamasa mendatang. Dengan standar ini dimungkinkan dibangunnya suatu sistem transportasi berbasis informasi dan komunikasi secara terpadu. WAVE adalah standar yang difokuskan pada komunikasi pertukaran pesan untuk kendaraan.
Arsitektur dan kerangka kerja WAVE didukung oleh
beberapa jenis protokol yang saling terkait satu dan
lainnya, meliputi: IEEE 802.11p [7], IEEE 1609.1 [8],
IEEE 1609.2 [9], IEEE 1609.3 [10], dan IEEE 1609 [11]
sebagaimana yang ditunjukkan pada Gambar 1.
Protokol IEEE 802.11p adalah sebuah standar untuk
pengoperasian lapisan fisik (PHY) dan sebahagian lapisan
datalink (MAC). Sedangkan protokol IEEE 1609.1 adalah
standar yang dirancang untuk pengoperasian berbagai jenis
aplikasi di lokasi remote sehingga dapat memungkinkan
terjadinya komunikasi antara perangkat OBU (Onboard
Unit) yang diinstal pada kenderaan melalui perangkat
RSU (Road Side Unit) yang terinstal pada infrastruktur
sepanjang jalan. Protokol IEEE 1609.2 adalah standar
untuk layanan keamanan, IEEE 1609.3 adalah standar
yang mengatur penggunaan channel. Sedangkan protokol
IEEE 1609.4 adalah standar yang mengatur pengoperasian
jenis pertukaran paket data.
Pengoperasian sejumlah protokol WAVE telah
memungkinkan terjadinya komunikasi pertukaran
informasi antara kendaraan dengan infrastruktur atau
disebut Vehicle to Infrastructure (V2I) dan pertukaran
informasi antar kendaraan atau disebut Vehicle to
Vehicle (V2V). Perpaduan kedua jenis ini komunikasi ini
ditetapkan sebagai dasar sistem komunikasi pada teknologi
VANETs dimana sejumlah kendaraan dapat berkomunikasi
menggunakan jaringan nirkabel baik secara infrastruktur
maupun ad-hoc. Standar WAVE dibangun di atas dua
unit dasar, yang disebut RSU dan OBU. RSU adalah
unit infrastruktur yang merupakan jalur akses (Access
Points) untuk menghubungkan pertukaran komunikasi
pada kendaraan sehingga dapat mengakses jaringan.
Sedangkan OBU adalah perangkat jaringan yang berada
pada kendaraan. Sebuah OBU dapat berkomunikasi dan
mengubah pesan ke OBU lain [13]. Pertukaran informasi
antar OBU disebut sistem komunikasi V2V. Sementara
pertukaran informasi antara OBU dengan RSU disebut dengan sistem komunikasi V2I. Ilustrasi kedua sistem
komunikasi tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.
IV. Simulasi dan pemodelan VANETS menggunakan federated mobility model
Federated Mobility Model merupakan pemodelan mobilitas lalu lintas yang dikembangkan dengan tujuan untuk membuat simulasi lebih realistis. Pemanfaatan model mobilitas lalu lintas kendaraan ini memungkinkan untuk dimodelkannya suatu simulasi penerapan aplikasi VANETs yang mendekati situasi dan kondisi dunia nyata. Pemodelan ini telah memasukkan sejumlah parameter yang membatasi tingkat kebebasan pergerakan kendaraan (motion constraints) dan telah berhasil ditingkatkan menjadi suatu pola pergerakan (vehicular motion pattern) yang meliputi: peta dan topologi jaringan jalan yang realistis dengan mencakup titik-titik simpul (node and edge), titik persimpangan (intersection), jumlah jalur (lane), penempatan lampu lalu lintas (traffic light), kebijakan arah jalan (road policy) kebijakan pada persimpangan (intersection policy), tipe dan kelas jalan, serta batas kecepatan maksimum yang diizinkan untuk dilewati kendaraan (roads and maximum vehicles speed). Selain itu, model ini telah mencakup motion constraints dan motion pattern lainnya yang meliputi: obstacles, attraction/repulsion points, vehicles characteristics, smooth deceleration and acceleration, trip motion, path motion, human driving pattern, intersection movement, time pattern dan pengaruh eksternal lainnya [4]. Pengintegrasian antara pembangkit lalu lintas dan simulator jaringan yang difasilitasi oleh antarmuka komunikasi dapat saling berinteraksi dan memberikan umpan balik secara bersamaan. Integrasi dan interaksi tersebut dapat menghasilkan suatu simulasi yang lebih riil. Pembangkit lalu lintas bertugas untuk membuat sejumlah tingkat kebebasan dan keterbatasan pergerakan menjadi suatu pola pergerakan yang disebut dengan pola mobilitas lalu lintas (traffic mobility pattern). Dengan difasilitasi oleh antarmuka komunikasi, seluruh pola mobilitas lalu lintas yang dihasilkan dapat dipergunakan oleh simulator jaringan. Simulator jaringan akan menterjemahkan pola mobilitas tersebut, dan memberikan tanggapan terhadap seluruh informasi yang ada serta mengimplementasikannya dalam pola pergerakan node-node yang disimulasikan. Didalam simulator jaringan, pola pergerakan nodenode tersebut kemudian diintegrasikan dengan aplikasi VANETs sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Dengan memanfaatkan mobilitas lalu lintas tersebut, aplikasi VANETs pada simulator jaringan dapat dibuat secara lebih realistis dan lebih akurat.
Federated Mobility Model merupakan pemodelan mobilitas lalu lintas yang dikembangkan dengan tujuan untuk membuat simulasi lebih realistis. Pemanfaatan model mobilitas lalu lintas kendaraan ini memungkinkan untuk dimodelkannya suatu simulasi penerapan aplikasi VANETs yang mendekati situasi dan kondisi dunia nyata. Pemodelan ini telah memasukkan sejumlah parameter yang membatasi tingkat kebebasan pergerakan kendaraan (motion constraints) dan telah berhasil ditingkatkan menjadi suatu pola pergerakan (vehicular motion pattern) yang meliputi: peta dan topologi jaringan jalan yang realistis dengan mencakup titik-titik simpul (node and edge), titik persimpangan (intersection), jumlah jalur (lane), penempatan lampu lalu lintas (traffic light), kebijakan arah jalan (road policy) kebijakan pada persimpangan (intersection policy), tipe dan kelas jalan, serta batas kecepatan maksimum yang diizinkan untuk dilewati kendaraan (roads and maximum vehicles speed). Selain itu, model ini telah mencakup motion constraints dan motion pattern lainnya yang meliputi: obstacles, attraction/repulsion points, vehicles characteristics, smooth deceleration and acceleration, trip motion, path motion, human driving pattern, intersection movement, time pattern dan pengaruh eksternal lainnya [4]. Pengintegrasian antara pembangkit lalu lintas dan simulator jaringan yang difasilitasi oleh antarmuka komunikasi dapat saling berinteraksi dan memberikan umpan balik secara bersamaan. Integrasi dan interaksi tersebut dapat menghasilkan suatu simulasi yang lebih riil. Pembangkit lalu lintas bertugas untuk membuat sejumlah tingkat kebebasan dan keterbatasan pergerakan menjadi suatu pola pergerakan yang disebut dengan pola mobilitas lalu lintas (traffic mobility pattern). Dengan difasilitasi oleh antarmuka komunikasi, seluruh pola mobilitas lalu lintas yang dihasilkan dapat dipergunakan oleh simulator jaringan. Simulator jaringan akan menterjemahkan pola mobilitas tersebut, dan memberikan tanggapan terhadap seluruh informasi yang ada serta mengimplementasikannya dalam pola pergerakan node-node yang disimulasikan. Didalam simulator jaringan, pola pergerakan nodenode tersebut kemudian diintegrasikan dengan aplikasi VANETs sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Dengan memanfaatkan mobilitas lalu lintas tersebut, aplikasi VANETs pada simulator jaringan dapat dibuat secara lebih realistis dan lebih akurat.
Dari sejumlah penelitian tersebut diatas dapat
diketahui bahwa hasil pemodelan dan simulasi VANETs
menggunakan Federated Mobility Model jauh lebih
realistis dan lebih akurat daripada pemodelan Isolated
maupun Embedded Mobility Model sebelumnya. Selain
itu, pemanfaatan TraCI sebagai antar muka komunikasi
juga mengizinkan untuk pengontrolan perilaku kendaraan
selama simulasi berjalan dengan konsekuensi terjadi
perubahan pola pergerakan. Hal tersebut bertujuan untuk
memudahkan pensimulasian aplikasi VANETs, sehingga
dapat dilakukan dengan lebih akurat dan lebih realistis.
V. Kesimpulan
Adapun beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari hasil review berbagai penelitian tentang pemodelan dan simulasi VANETs menggunakan Federated Mobility Model adalah sebagai berikut:
1. Pemanfaatan Federated Mobility Model untuk pemodelan mobilitas lalu lintas kendaraan telah memungkinkan dilakukannya simulasi aplikasi VANETs yang mendekati situasi dan kondisi rill.
2. Federated Mobility Model dapat mengakomodir sejumlah parameter yang membatasi tingkat kebebasan pergerakan kendaraan yang dapat dijadikan suatu pola pergerakan yang dapat digunakan untuk pemodelan dan simulasi VANETs secara lebih realistis.
3. Kelebihan pemodelan Federated Mobility Model adalah dapat menjalankan dua jenis simulator secara dua arah dengan bersamaan dan dinamis, sehingga pemodelan dan simulasi lalu lintas yang disimulasikan akan lebih realistis. Kelebihan lainnya dari pemodelan ini adalah mampu mensimulasikan penerapan aplikasi VANETs dengan area observasi yang luas. Oleh karena itu, penggunaan Federated Mobility Model untuk pemodelan dan simulasi aplikasi VANETs dapat dilakukan dengan mudah dan lebih luas, serta hasil simulasi dapat dianalis secara akurat dan lebih realistis.
Adapun beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari hasil review berbagai penelitian tentang pemodelan dan simulasi VANETs menggunakan Federated Mobility Model adalah sebagai berikut:
1. Pemanfaatan Federated Mobility Model untuk pemodelan mobilitas lalu lintas kendaraan telah memungkinkan dilakukannya simulasi aplikasi VANETs yang mendekati situasi dan kondisi rill.
2. Federated Mobility Model dapat mengakomodir sejumlah parameter yang membatasi tingkat kebebasan pergerakan kendaraan yang dapat dijadikan suatu pola pergerakan yang dapat digunakan untuk pemodelan dan simulasi VANETs secara lebih realistis.
3. Kelebihan pemodelan Federated Mobility Model adalah dapat menjalankan dua jenis simulator secara dua arah dengan bersamaan dan dinamis, sehingga pemodelan dan simulasi lalu lintas yang disimulasikan akan lebih realistis. Kelebihan lainnya dari pemodelan ini adalah mampu mensimulasikan penerapan aplikasi VANETs dengan area observasi yang luas. Oleh karena itu, penggunaan Federated Mobility Model untuk pemodelan dan simulasi aplikasi VANETs dapat dilakukan dengan mudah dan lebih luas, serta hasil simulasi dapat dianalis secara akurat dan lebih realistis.



Komentar
Posting Komentar